Intip Berbagai Koleksi Sejarah di Museum Radya Pustaka

Kebanyakan orang salah mengira, bahwa liburan hanya bisa dihabiskan dengan pergi ke wahana bermain, pantai dan lainnya. Pemikiran itu akan hilang ketika Kamu mencoba mengunjungi Museum Radya Pustaka ini, karena selain pengalaman menarik juga pengetahuan baru yang diperoleh.

Tentang Museum Radya Pustaka

Museum Radya Pustaka Solo

Museum Radya Pustaka ini menjadi salah satu ikon budaya di Kota Solo. Ketika Kamu sedang berkunjung ke sana, cobalah untuk mampir sejenak. Sebab, tempat tersebut merupakan gudangnya koleksi berbagai macam peninggalan dari berbagai generasi. Jika penasaran, simak penjelasan berikut:

  • Sejarah Museum

Museum Radya Pustaka merupakan salah satu destinasi wisata di Kota Solo yang memiliki nuansa klasik. Di sini menyimpan berbagai koleksi langka dari Kasunanan Surakarta, termasuk peninggalan Napoleon Bonaparte yang dikenal sebagai pemimpin militer Perancis.

Bisa disebut, jika tempat ini merupakan saksi sejarah dari berbagai zaman. Peninggalan-peninggalan yang dikoleksi bukan hanya dari Keraton Surakarta, akan tetapi juga berasal dari Benteng Vastenburg dan Pura Mangkunegara.

Mungkin banyak dari Kamu yang belum tahu, bahwa dulunya kerajaan Mataram memiliki hubungan yang baik dengan Perancis cukup lama. Bahkan, budaya kekaisaran Eropa tersebut turut mempengaruhi arsitektur bangunan Keraton Surakarta hingga model kemiliterannya.

  • Lokasi Museum

Lokasi dari Museum ini sendiri sangat strategis, yakni berada di kawasan komplek Taman Sriwedari, tepatnya di jalan utama Slamet Riyadi. Jadi, sangat mudah untuk ditemui dan buat Kamu yang ingin berkunjung tidak akan kesasar.

Selain itu, antara Museum Radya Pustaka dengan Keraton Surakarta erat kaitannya, karena koleksi yang ada di sini merupakan milik kasunanan. Sehingga, untuk semakin melengkapi wawasan liburanmu setelah dari sini pastikan mampir ke keratonnya juga ya.

Berapa Tiket Masuk yang Harus di Bayar?

Bagi Kamu yang sedang liburan ke sini ataupun backpaker-an akan sangat menghemat biaya, karena masuk ke Museum ini tidak dipungut tarif apapun alias gratis. Bahkan, selama berkeliling juga akan ditemani seorang guide tour.

Akan tetapi perlu diketahui, bahwa museum ini tidak berada di bawah naungan Dinas Purbakala maupun Dinas Pariwisata Pemerintahan Daerah setempat. Namun, tempat tersebut merupakan milik dan dikelola oleh sebuah yayasan, yakni Yayasan Paheman Radyapustaka Surakarta.

Selain itu, bangunan ini berbeda dari museum biasanya, karena sebelumnya merupakan hunian milik warga Belanda, yakni Johannes Busselaar. Seiring waktu, tempai ini dimanfaatkan oleh pihak Keraton untuk menyimpan berbagai koleksi tanpa merubah bentuk bangunan.

Tempat ini juga merupakan fasilitas gratis yang disediakan oleh pengelola, sehingga Kamu tidak perlu merogoh kocek sedikitpun jika berkunjung. Namun, objek wisata ini dibuka pada hari Selasa sampai Minggu mulai pukul 08:00 – 15:00 WIB saja.

Intip Peninggalan Sejarah Museum Radya Pustaka

Nah, di sini Kamu bisa berkeliling melihat-lihat benda peninggalan sejarah berbagai zaman. Koleksi yang ada di sini terdiri dari berbagai macam arca, buku-buku kuno, pewayangan bahkan senjata. Selain itu, Museum Radya Pustaka juga merupakan salah satu yang tertua di Indonesa. Simak ulasan berikut:

1. Halaman Museum

Memasuki halaman, Kamu akan disuguhi berbagai peninggalan Belanda jaman VOC dulu berupa meriam besar beroda milik Keraton Kartasura. Selain itu, akan nampak juga berbagai patung ataupun arca yang menggambarkan sejarah masa lampau.

Di antaranya arca Dewi Durga, Siwa dan Boddhisatwa yang ditemukan di wilayah Surakarta dan berukuran besar terbuat dari bebatuan andesit. Arca Durga dipaparkan berdiri tegak sambil menginjak kerbau tiruan Raja Asyura yang dikisahkan sebagai penyerang Siwa.

2. Patung Rajamala

Patung Rajamala merupakan sebuah kapal yang konon katanya, digunakan oleh Pakubuwono IV untuk menjemput Putri Madura di Gresik yang akan dipersuntingnya. Namun, seiring waktu kapal ini lebih sering dimanfaatkan untuk membawa bantuan korban banjir dari Keraton Solo.

Untuk bentuknya sedikit menyeramkan, yakni berupa kepala kapal berwarna merah menyala dengan hiasan mata besar. Bahkan muncul mitos yang katanya bagi pengunjung yang tidak kuat mental bakalan susah tidur setelah melihat patung ini.

Konon, patung ini merupakan bentuk dari sosok raksasa penguasa laut, kemudian oleh Pakubuwono IV dijadikan sebuah karya. Selanjutnya, di bagian belakang museum terdapat makam raja-raja Imogiri serta berbagai arca lainnya.

Berdasarkan berbagai sumber museum ini pernah memiliki catatan kelam, yakni beberapa koleksi arca yang terbuat pada abad ke-4 dan ke-9 telah dicuri dan diganti dengan replika. Bahkan dijual kepada pihak lain.

Namun, setelah melalui berbagai penyelidikan akhirnya arca-arca tersebut kembali ke tempatnya. Untuk saat ini, koleksi-koleksi di museum tersebut telah ditandai sebagai keterangan keasliannya, sehingga pengunjung tidak akan bingung membedakan.

3. Tempatnya Dunia Wayang

Ketika memasuki ruang pertama museum, maka akan menemui berbagai koleksi wayang. Tidak hanya koleksi dalam negeri, bahkan mereka juga menyimpan jenis-jenis lain dari luar negeri, misalnya saja wayang Nang dari Thailand.

Selain itu, Kamu akan disambut oleh patung Rangga Warsita yang terkenal sebagai pujangga besar di Surakarta pada abad ke-19. Nah, jika tertarik untuk belajar dunia pewayangan, tempat ini wajib untuk masuk daftar kunjungan wisatamu.

4. Koleksi Berbagai Kerajinan Kuno

Selain wayang, di sini juga terdapat berbagai koleksi arca dari senjata-senjata logam pada jaman dulu, yakni keris, pedang dan yang lainnya. Untuk arca sendiri total sekitar 173 patung, di antaranya patung Ganesha, Wisnu dan Siwa.

Tidak hanya itu, Kamu juga akan menemui berbagai miniatur rumah joglo, yakni rumah asli Jawa Tengah. Koleksi-koleksi ini terdapat di ruang kedua atau disebut Tosan Aji. Bahkan, hadiah dari Napoleon kepada pakubowono IV berupa orgel bisa dilihat di sini.

Berlanjut ke ruang selanjutnya, akan ditemui berbagai koleksi keramik peninggalan masa penjajahan Belanda. Salah satunya adalah piring sewon yang dipajang di sebagian dinding, sebagi lambang untuk memperingati seribu hari meninggalnya seseorang.

5. Asiknya Horoskop Jawa

Sistem zodiak atau perbintangan yang biasanya terdiri dari 12 bulan mungkin sudah familiar buat Kamu. Namun, berbeda dengan horoskop unik versi jawa yang terkenal lebih rumit, lengkap dan detail.

Bahkan, Kamu bisa belajar langsung atau sekedar bertanya-tanya jika sangat penasaran kepada guide tournya. Mereka akan menjelaskan secara langsung, sehingga bisa sambil belajar. Bukan itu saja, ilmu horoskop ini bisa menebak angka kelahiran juga lho! Menarik bukan?

Selain itu, di sini juga tersedia berbagai buku kuno atau perpustakannya museum. Kamu juga bisa baca-baca di tempat ini, sayangnya tidak boleh di bawa keluar ya! Semua koleksi ini bisa ditemui di ruang keempat.

Lihat juga : Pura Mangkunegaran

6. Menilik Ruang 5 Dan 6

Ruangan ini merupakan tempatnya berbagai peninggalan dari perunggu, di antarnya adalah alat musik tradisional Jawa Tengah atau gamelan dan berbagai patung. Khusus di ruang keenam, tersimpan gamelan agung punya Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV.

Semakin tertarik untuk berlibur ke Kota Solo kan? Maka dari itu, bagi kamu yang penggemar benda-benda kuno peninggalan sejarah, Museum Radya pustaka merupakan tempat yang tepat untuk mengenal serta mempelajarinya secara tidak langsung.


Bagikan di :