Belajar Sapaan “Selamat Pagi” dalam Bahasa Jawa

Bagikan di :

Indonesia merupakan sebuah negara yang berbentuk kepulauan nan beragam. Membuatnya terkenal sebagai negara penuh toleransi. Bukan hanya pada masalah agama resminya berjumlah sampai 6 saja, melainkan juga memiliki berbagai ras, suku, budaya, kepercayaan dan bahasanya. Dengan bahasa bakunya Bahasa Indonesia, negara khatulistiwa ini juga memiliki berbagai bahasa daerah di tiap-tiap wilayahnya yang bila dihitung-hitung mencapai lebih dari seribu dan mayoritas orang mengerti yakni basa Jawa, terlebih mengenai kata sapaan dalam bahasa jawa selamat pagi.

Sekilas Mengenai Bahasa Jawa

Bahasa Jawa yaitu sebuah bahasa yang dituturkan oleh suku Jawa bertempat tinggal di pulau Jawa. Namun, ada pula beberapa wilayah di luar pulau menggunakannya. Seperti di Sumatera, Kalimantan bahkan di luar Indonesia di antaranya Malaysia, Suriname dan Belanda.

Di pulau Jawa sendiri, meski hanya terbilang mayoritas menggunakan bahasa Jawa, namun pada kenyataannya setiap wilayahnya pun memiliki logat, dialek dan kata-kata sendiri. Sehingga membuatnya semakin beragam.

Dialek-dialek yang dipertuturkan terbagi menjadi 3 berdasarkan aea persebarannya, yakni dialek barat (Banyumas, Cirebon, Tegal dan Banten), dialek tengah (Surakarta, Yogyakarta, karisidenan Kediri, Semarang, Demak, Jepara, Blora, Pati). Terakhir dialek timur (Surabaya, Malang, Madura, Banyuwangi).

Meski terdiri dari beberapa dialek yang berbeda-beda. Orang Indonesia terkenal di mata dunia sebagai negara memiliki penduduk ramah-ramah. Begitu pula warga Jawa haruslah mengerti bagaimana cara mengucapkan sapaan kepada orang lain. Misalnya bahasa Jawa selamat pagi.

Sapaan Bahasa Jawa Selamat Pagi

Ungkapan sapaan sederhana dan terdasar yang perlu dipelajari ialah selamat pagi. Sebab dalam bersosialisasi pastilah akan bertemu banyak orang kapanpun. Sehingga dalam bahasa Jawa ditekankan untuk bisa mengerti cara mengucapkan salam.

Sebab, orang lain akan menilai dari apa yang pertama diucapkan serta dari situ pula diketahui etika seseorang. Sehingga, tidaklah heran bahwa masyarakat Jawa bisa menjadi akrab dimanapun. Bahkan, karena ke ramah tamahannya membuat warga mancanegara berbondong-bondong belajar boso (bahasa Jawa).

Bagaimana Ucapan Sapaan Bahasa Jawa Selamat Pagi?

Dalam mengucapkan sapaan selamat pagi kepada orang lain, biasanya ada yang menyebutkannya dengan sugeng enjing atau ada pula wilujeng enjing. Sehingga keduanya sering kali di perdebatkan mana benar dan salah oleh para masyarakat awam.

1. Sugeng Enjing atau Wilujeng Enjing?

Terdapat beberapa orang mengatakan bahwa yang benar yaitu wilujeng enjing. Dengan dasar bahwa bila telusuri lebih lanjut kata sugeng merupakan basa krama dari urip atau dalam bahasa Indonesia berarti hidup. Sehingga di rasa akan kurang pas jika menggunakan sugeng sebagai ucapan sapaan.

Lalu, ada pula yang menafsirkan bahwasanya wilujeng enjing bisa digantikan dengan sugeng enjing sebab memiliki arti sama yakni Slamet atau selamat. Bila hal tersebut dirasa yaitu benar, adapun kata selamat lain yakni rahayu. Sehingga sugeng enjing bisa diubah menjadi rahayu enjing namun kurang pas.

Maka pemikiran semacam itu ialah keliru sekali. Biar Anda semakin yakin, ambil saja contoh ucapan sapaan berbahasa Inggris yaitu good morning yang berarti selamat pagi. Jika diartikan sepenggal ‘good’ itu baik. Sedangkan nice, fine pun juga baik. Maka tidak mungkin sapaannya berubah jadi nice morning.

2. Bagaimana Kedudukannya?

Masih ada pula pendapat lain yang sama salah kaprah nya seperti di atas. Yakni meyakini bahwa sugeng enjing berkedudukan lebih rendah dan wilujeng enjing dianggap memiliki makna lebih halus. Sehingga, sebagai orang Jawa penuh tata kerama pastilah menganggap wilujeng lah pantas.

Padahal menurut bausastra Jawa yang di karang oleh S Prawiro Atmodjo, tertulis bahwa sebenarnya selamat itu dalam bahasa Jawa slamet (ngoko), wilujeng (krama) dan sugeng (krama inggil). Sehingga sudah dipastikan bahwa sugeng memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan wilujeng.

Namun sesuai dengan ilmu bahasa, dalam pengucapan sapaan itu bersifat konvesional yang artinya menyesuaikan keadaan dan kondisi masyarakat sekitar. Serta dalam mengucapkan salam tidak mengikat umur, hubungan sosial dan drajat sosial.

3. Siapa yang Kerap Mengucapkannya?

Seperti halnya mengucapkan sapaan sugeng enjing tetap akan diucapkan seperti itu, meskipun yang diajak bicara memiliki umur lebih muda, punya hubungan sosial dekat maupun mempunyai kedudukan derajat rendah.

Sebab bahasa Jawa akan terasa kurang pas bila disangkut pautkan dengan unggah-ungguh basa Jawa. Misalnya saat berbicara kepada mereka yang lebih muda menggunakan basa ngoko, maka sugeng enjing dibuat ngoko akan menjadi slamet awan? Dari situlah menjelaskan sapaan ini bersifat konvesional.

Namun, jika tetap dipaksakan akan membuatnya salah kaprah. Selain itu, apa penggunaan wilujeng itu salah? Maka jawabnya yaitu tidak dan itu bisa digunakan. Sebab sesuai yang dijelaskan di awal bahwa bahasa Jawa memiliki berbagai dialek berbeda-beda membuat bahasa tiap wilayahnya pun tak sama.

Oleh sebab itu dalam penggunaan sapaan, Anda bisa menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat di sekitarmu. Misalnya di daerah Jogja yang terkenal dengan kehalusan orangnya, mereka cenderung menggunakan wilujeng enjing, berbeda dengan Surakarta sapaan digunakan ialah sugeng enjing.

Penjelasan Pemakaian Bahasa Jawa

Selain penggunaan sapaan selamat pagi yang telah dijelaskan di atas, ada pula unggah-ungguh dalam basa Jawa. Dengan penempatan berbeda-beda sesuai kasta, usia, status sosial dan derajat sosial. Berikut merupakan penjelasan singkatnya.

Ngoko ialah tingkatan bahasa Jawa terendah atau kasar. Umumnya digunakan dikalangan orang Jawa untuk bercakap-cakap kepada yang sesuai sama atau lebih muda. Sehingga kurang pas bila digunakan berbicara dengan orang yang lebih tua. Serta ngoko dibagi menjadi 2 yakni ngoko lugu dan ngoko alus.

Krama sendiri pun terbagi menjadi dua yakni krama lugu dan krama inggil. Untuk yang lugu digunakan saat menghormati seseorang, namun sudah memiliki hubungan erat atau kepada orang lebih muda yang dihormati.

Sedangkan krama inggil yaitu bahasa yang derajatnya sangat tinggi dan paling halus dalam bahasa Jawa. Sehingga digunakan para pemuda kepada seorang lebih tua darinya. Sebagai bentuk tata karma serta menghormati.

Pentingnya Belajar Bahasa Jawa

Sebagai seorang yang memiliki nilai nasionalis, Anda pun perlu mempelajari bahasa daerah terutama bagi bertempat tinggal di pulau Jawa dan wajib menguasai bahasanya. Sehingga, nilai budaya dan kearifan lokal bangsa Indonesia tetap terjaga.

Apalagi di zaman serba maju sekarang ini, membuat nilai-nilai budaya daerah semakin terkikis perlahan-lahan dan kehidupan barat kian merajalela masuk ke Indonesia. Sehingga, masyarakat perlu dididik dengan moral dari yang terkecil yakni bahasa.

Dalam bahasa Jawa, diajarkan bagaimana Anda menghormati dan menghargai sesama manusia. Sehingga masyarakat kembali mengerti nilai moral serta budaya daerah. Apalagi anak-anak muda zaman sekarang yang sangat mudah terjangkit budaya luar tersebut.

Maka dari itu, ayo sekarang pada membudayakan mulai terkecil seperti sapaan bahasa Jawa selamat pagi serta bahasa Jawa terima kasih. Membiasakan salam juga membangun karakter ramah tamah dan suka menyapa. Serta jangan lupakan untuk selalu menggunakan bahasa daerah untuk melestarikan budaya bangsa.